Monday, August 6, 2018

Tiga Generasi

Assalamu’alaikum Warohmatullohiwabarokaatuuh..
Selamat malam pembaca,
BTW ini Bekasi lagi dingin-dinginnya, Brrr.. Padahal musim kemarau, hujan sudah lama tak nampak. Pertama-tama aku turut berduka atas gempa bumi berkekuatan 7 SR yang melanda Lombok Utara kemarin malam. Semoga korban segera diberi kesembuhan dan korban yang meninggal ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Untuk keluarga semoga diberikan ketabahan, dan semoga tidak ada lagi gempa susulan. Aamiin.

Senam jari kali ini aku mau cerita kalo adikku yang bungsu dan satu-satunya itu hari kamis besok bakal berangkat ke Asrama IPB untuk melanjutkan studi di IPB jurusan Ilmu Komputer. Beberapa malam aku mikirin apa dia bisa nanti jauh dari orang tua, secara cuma dia yang sekolah SMA-nya ngga melanjutkan tradisi kakak-kakaknya ngekost. Di satu sisi aku juga sedih karena ibu ditinggal lagi, kenapa setelah dewasa anak-anaknya malah menjauh termasuk aku. Lalu ibu bercerita tentang susahnya kehidupan dahulu dari anak pertama sampai anak kedua bagaimana ketika punya keinginan kuat bersekolah. Dari sana aku jadi berpikir..

Ada anak pertama dengan segala sesuatunya yang serba pertama, serba baru, anak pertama juga hadiah pertama bagi Ibu dan Bapak untuk mereka menjadi orang tua. Kasih sayang orang tua masih utuh tercurah padanya. Ada anak kedua dengan kelahirannya nomor dua, segala sesuatunya memiliki pertimbangan dengan perbandingan anak pertama,  tapi kehadirannya kembali membahagiakan orang tua meskipun hanya sebagai urutan kedua. Momen yang didapat anak kedua biasanya tak sebaru anak pertama, nenekpun bahkan sudah tua (Ya kalo nenek ngga tuamah namanya bukan nenek, hehehe). Ada juga anak bungsu dengan kedatangannya yang terakhir, tapi harus hanya merasakan 3 tahun setengah saja kasih sayang bapak karena bapak pergi duluan. Meski dari segi materi berkecukupan karena anak pertama dan kedua sudah bekerja, akan tetapi bungsu ini tumbuh di paling akhir, bahkan ibupun sudah menua.

Di balik itu semua ada hal-hal lain yang melengkapi awalnya. Anak pertama yang secara otomatis memikul beban menjadi kakak tertua saat Bapak tiada, melalui tangannya Allah berikan rizki kepadanya yang insya Allah menjadi pahala jariyahnya karena adik-adiknya bisa tumbuh dewasa dengan baik-baik. Tidak mudah menjadi anak pertama yang harus selalu jadi dewasa, padahal mungkin saja setiap orang dewasa juga butuh ruang untuk menjadi childish, bahkan untuk menangisi cita-cita melanjutkan pendidikan selepas lulus SMK yang hampir kandas. Tapi Allah dengan segala kuasanya, meski menanggung beban untuk keluarganya, Anak pertama ini masih bisa melanjutkan pendidikan karena beasiswa dari tempatnya bekerja. Alhamdulillah..

Anak kedua yang masih remaja kala itu dan hampir kehilangan mimpi dan cita-citanya. Menjalani hidup tanpa mimpi asal bisa sekolah SMP dan lulus SMK baginya tidaklah mudah. Tapi dengan kuasa Allah kembali, anak tengah ini masih bisa melanjutkan pendidikan selepas SMK dengan tenaganya sendiri. Menjalani posisi yang berada di tengah juga tidak mudah, sewaktu-waktu dia harus menjadi adik bagi kakaknya, tapi dalam waktu yang sama pula dia harus bisa menjadi kakak untuk adiknya. Berada di tengah itu posisi sulit, kamu ngga selalu bisa mendeklarasikan ketika kamu putih, juga ngga selalu bisa mengekpresikan ketika kamu hitam.

Sedangkan si bungsu yang nongol terakhir dengan segalanya yang serba terakhir, juga hadir menyempurnakan semuanya. Dia harus bisa menjadi dirinya ketika memikul beban di sekolah, misalnya ketika kakak pertama dan kedua lumayan baik juga di sekolah, seolah lingkungan menganggap biasa saja ketika dia juga bersinar. “Ohh.. si bungsu ini predikat A, pantesan aja kan kakak-kakaknya dulu juga begitu.” Padahal jelas kesulitan belajar setiap zaman itu berbeda. Maka ketika si bungsu bisa bersinar itu bukan berarti karena dulu kakak-kakaknya juga begitu. Akan tetapi itu bisa terjadi karena dia juga melakukan usahanya sendiri. Akhirnya si Bungsu ini masuk IPB juga lewat jalur prestasi, generasi pertama dari kami bertiga yang bisa kuliah beneran di PTN dengan segala kesempatan yang ada.


Tapi pada akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa setiap anak lahir dan datang dalam hidup dengan berbagai kesempatan terbaiknya. Kita ngga bisa memilih ingin menjadi sulung, tengah, atau bungsu, dengan segala resiko, beban, dan kesempatan terbaiknya. Hidup adalah penerimaan, menerima atas semuanya ketika apa yang kita pilih sesuai ataupun tidak sesuai dengan takdir. Harapannya adalah, tiga anak beda generasi ini semoga selalu bisa membuat Ibunya tersenyum bahagia dalam berbagai keadaan. Begitu juga dengan kamu dan generasi di atas atau di bawah kamu. Aamiin. :)



Bekasi, 9:11 PM
6 Agustus 2018

Saturday, July 14, 2018

Mungkin atau Memang

Hai..
I think it so long time that I don’t post something to this blog. Tulisan kali ini mungkin lebih mirip ke curcol kayaknya. Udah lama ngga senam jari. Bahasanya juga sengaja aku pilih yang santai-santai aja. Tujuannya mungkin lebih ke untuk merasakan manfaatnya yaitu sedikit lega. Menulis itu menenangkan. Ya rasanya saat ini aku lagi butuh nulis aja.

Contributors